BPBD Bontang Tangani 117 Kejadian, Personel Disiagakan 24 Jam
Titikarah.com, Bontang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang terus mengintensifkan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Hingga Oktober 2026, instansi tersebut telah menangani sebanyak 117 kejadian, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, tanah longsor hingga berbagai insiden yang membutuhkan proses evakuasi dan pencarian korban.
Dari total kejadian tersebut, karhutla menjadi insiden yang paling mendominasi dengan 96 kasus. Sementara itu, BPBD juga menangani 3 kejadian banjir, 3 kecelakaan laut, 3 pohon tumbang, 5 tanah longsor, 2 evakuasi korban tenggelam, 4 evakuasi kecelakaan laut, 3 pencarian dan pertolongan, 1 rumah roboh, 3 kebakaran permukiman, serta 1 evakuasi korban.
Kepala Pelaksana BPBD Bontang, Usman, melalui Ismail Abdullah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang, tingginya jumlah kejadian tersebut membuat kesiapsiagaan personel menjadi hal penting dalam mendukung penanganan bencana di lapangan.
Menurutnya, seluruh personel BPBD disiagakan selama 24 jam untuk memastikan setiap laporan kejadian darurat dapat segera ditindaklanjuti. Kecepatan respons menjadi salah satu faktor penting dalam mengurangi risiko kerugian material maupun jatuhnya korban jiwa.
“Respons cepat sangat diperlukan guna meminimalisir dampak kerugian material maupun potensi korban jiwa yang diakibatkan oleh berbagai bencana,” katanya, Selasa (3/11/2026).
Usman menjelaskan, penanganan bencana tidak hanya berfokus pada kejadian karhutla yang mendominasi laporan. BPBD juga harus menghadapi berbagai potensi bencana lain, terutama yang berkaitan dengan kondisi cuaca dan lingkungan.
Tercatat, sepanjang sepuluh bulan terakhir terdapat 3 kejadian banjir dan 5 tanah longsor yang membutuhkan penanganan tim gabungan. Kondisi tersebut menjadi perhatian, khususnya di wilayah dataran rendah serta kawasan yang memiliki kontur tanah berbukit.
Selain itu, cuaca ekstrem juga berpotensi memicu gangguan terhadap lingkungan dan infrastruktur permukiman. Hal ini terlihat dari laporan pohon tumbang sebanyak 3 kejadian serta satu kasus rumah roboh yang turut ditangani BPBD.
“Kami langsung mengerahkan seluruh petugas ke lokasi begitu laporan diterima untuk melakukan evakuasi material yang menghambat akses jalan maupun membahayakan keselamatan warga,” ucapnya.
Dalam menjalankan tugasnya, BPBD juga melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, relawan hingga masyarakat. Usman mengapresiasi dukungan dan koordinasi seluruh pihak yang selama ini turut membantu proses penanganan di lapangan.
Dia pun mengimbau masyarakat agar tidak hanya mengandalkan petugas ketika bencana terjadi, tetapi juga meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Partisipasi warga dalam melaporkan kejadian darurat secara cepat dan tepat dinilai dapat membantu mempercepat proses penanganan.
BPBD berharap kesadaran masyarakat terhadap mitigasi dan kesiapsiagaan bencana terus meningkat. Dengan dukungan personel yang siaga serta kolaborasi lintas unsur, berbagai risiko bencana di Kota Bontang diharapkan dapat ditangani lebih cepat dan dampaknya bisa diminimalkan. (Ra)